Orientasi Bisnis, Sistem Perekonomian Dunia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Bisnis
Monday, May 3, 2021
Tuesday, April 6, 2021
Orientasi Bisnis (Profit Dan Non-Profit Oriented)
Orientasi bisnis adalah perkenalan untuk bisa menentukan sikap berupa arah dan pandangan pikiran seseorang. Umumnya, masa orientasi diterapkan oleh siswa baru di sekolah atau karyawan baru di sebuah perusahaan. Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Jadi orientasi bisnis adalah suatu pengenalan untuk menentukan sikap berupa arah dan pandangan dalam kegiatan jual beli barang atau jasa dalam upaya mendapatkan keuntungan.
Pada dasarnya setiap kegiatan usaha atau bisnis saat ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan atau laba dari proses kegiatan bisnisnya, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengoptimalkan laba maksimum dengan menerapkan beberapa prinsip bisnis yang diperlukan bagi kelancaran usaha tersebut. Bisnis yang berorientasi pada keuntungan semata seperti ini banyak ditemukan di era global seperti sekarang, perusahaan – perusahaan di Indonesia misalnya. Perusahaan berusaha mengembangkan sayap bisnis atau melakukan ekspansi bisnisnya lebih luas semata mata untuk mendapatkan laba / profit yang lebih besar.
Seperti dalam prinsip ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif seperti Koperasi di Indonesia, yang salah satunya adalah Organisasi Koperasi Unit Desa (KUD) didirikan untuk mensejahterakan seluruh anggotanya guna tercapainya kesejahteraan bagi setiap petani di desa. Model bisnis seperti ini erat kaitannya dengan sistem sosialistis, dimana bisnis sebagian besar dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja untuk kepentingan bersama.
Sistem Perekonomian Dunia
Merkantilisme
Apakah definisi merkantilisme? Merkantilisme adalah suatu kebijaksanaan politik ekonomi negara imperialis yang bertujuan untuk menumpuk kekayaan berupa logam mulia sebanyak-banyaknya sebagai ukuran kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan negara tersebut. Paham merkantilisme berkembang pada abad ke-16 sampai abad ke-18. Pelopor merkantilisme adalah Thomas Mun dan Sir James Stuart dari Inggris, Jean Baptiste Colbert dari Perancis, dan Antonio Serra dari Italia. Pelaksanaan merkantilisme dilatarbelakangi oleh penjelajahan samudera. Dalam perdagangan dan ekspansi pelayaran, bangsa Eropa sudah mengenal uang. Karena uang sama nilainya dengan emas, maka para pedagang berupaya memperoleh emas sebanyak-banyaknya untuk menimbun kekayaan mereka.
Kapitalisme
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi. Dalam kapitalisme, meskipun keuntungan yang didapat sangatlah besar, kemudian tercipta kompetisi sehat antar pasar tanpa risau terhadap campur tangan pemerintah, dan setiap pemilik modal bebas menentukan pekerjaan atau usaha apa yang akan mereka jalankan, tetap saja menciptakan beberapa nilai negatif dan juga anomali. Kasus yang terjadi seperti perbedaan kelas ekonomi yang semakin nyata lantaran keuntungan sepihak yang hanya diperoleh kaum minoritas atau elitis saja, tanpa mengindahkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
Komunisme
Komunisme adalah suatu sistem perekonomian di mana peran pemerintah sebagai pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Tokoh dengan paham ini adalah Karl Marx, ia menolak segala bentuk kepemilikan pribadi, Marx beserta pengikutnya membedakan antara kepemilikan atas barang konsumsi dan kepemilikan barang sarana produksi, komunisme tidak berkeberatan dalam kepemilikan secara pribadi barang-barang konsumsi. Namun tujuan sistem komunis tersebut belum pernah sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara yang meninggalkan sistem komunisme tersebut.
Sosialisme
Sosialisme adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas lng, dan lain sebagainya. Dalam sistem ekonomi sosialisme atau sosialis, mekanisme pasar dalam hal permintaan dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku. Pemerintah mengatur berbagai hal dalam ekonomi untuk menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.
Fasisme
Fasisme adalah suatu paham yang mengutamakan atau meninggikan kekuasaan yang absolut tanpa mengutamakan prinsip demokrasi, selalu mengedepankan bangsa sendiri dan menganggap rendah bangsa lain (Nasionalisme yang berlebihan). Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, yaitu fascio, dan dari bahasa Latin, yaitu fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Fasisme dikenal sebagai sebuah ideologi yang muncul dan berkembang di abad ke-20. Tokoh penganut fasisme adalah Benito Mussolini dari Italia dan Adolf Hitler dari Jerman. Fasisme muncul di beberapa negara seperti Jerman, Italia, Jepang dan Spanyol.
Demokrasi Ekonomi
Sistem demokrasi ekonomi adalah suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah. Hal ini juga dijelaskan dalam TAP MPR No. IV/MPR/1999 dengan menggunakan istilah sistem ekonomi kerakyatan, di mana masyarakat memegang peran aktif dalam kegiatan ekonomi, dan pemerintah berusaha menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Sistem demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi Pancasila bertujuan untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan berkeadilan, sehingga tercapai kemakmuran rakyat yang seutuhnya.
Pandangan Masyarakat Terhadap Profesi Bisnis (Dulu Dan Sekarang)
Banyak kemajuan pandangan masyarakat kita terhadap bisnis dibandingkan dengan masa lalu. Pada masa lalu, orang tua kita memandang sebelah mata terhadap pekerjaan bisnis. Bisnis tidak dianggap sebagai profesi. Orang terpandang, kaum intelektual, ahli agama menutup minatnya terhadap bisnis, ada rasa malu terjun dalam bidang ini. Namun sekarang persepsi demikian telah berlalu, masyarakat tidak memandang rendah lagi, bisnis sudah terangkat menjadi profesi elit. Bisnis sudah menjadi dambaan anak muda. Banyak juga orang yang beralih profesi ke profesi bisnis, seperti ahli hukum, pelajar/mahasiswa, pendidik/guru, bahkan Dokter. Pekerjaan di bidang bisnis pada masa lalu belum menarik bagi anak muda dibandingkan dengan masa sekarang. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang sejarah pekerjaan bisnis di negara kita. Latar belakang filosolis profesi bisnis di Indonesia kurang begitu menguntungkan. Banyak faktor psikologis yang membentuk sikap negatif masyarakat sehingga mereka kurang berminat terhadap profesi bisnis, antara lain sifat agresif, ekspansif, bersaing, egois, tidak jujur, kikir, sumber penghasilan tidak stabil, kurang terhormat, pekerjaan rendah dan sebagainya. Pandangan semacam ini dianut oleh sebagian besar penduduk, sehingga mereka tidak tertarik. Mereka tidak menginginkan anak-anaknva menerjuni bidang ini, dan berusaha mengalihkan perhatian anak untuk menjadi pegawai negeri, apalagi bila anaknya sudah bertitel lulus perguruan tinggi. Mereka sering berpandangan ”untuk apa sekolah tinggi, kalau cuma jadi pedagang”. Pandangan seperti ini sudah berkesan jauh di lubuk hati sebagian besar rakyat kita mulai sejak zaman dulu. Tapi lihat sekarang semua orang sudah memulai kegiatan bisnis dari masa muda dimulai dari bisnis kecil-kecilan yang dilakukan di lingkungan sekitar.
Referensi :
http://repository.uin-suska.ac.id/7281/4/BAB%20III.pdf
https://www.merdeka.com/jateng/orientasi-adalah-peninjauan-untuk-menentukan-sikap-kenali-tujuan-dan-manfaatnya-kln.html
http://ridwanaz.com/umum/ekonomi/definisi-latar-belakang-dan-akibat-kebijakan-ekonomi-merkantilisme/
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4216/2.htm
http://www.fimadani.com/sistem-ekonomi-kapitalis/
http://www.organisasi.org/1970/01/sistem-tata-ekonomi-kapitalisme-sosialisme-dan-komunisme-definisi-pengertian-arti-penjelasan-sejarah-teori-ilmu-ekonomi.html
http://frederick-erick.blogspot.com/2009/11/5-sistem-ekonomi.html
http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/93018-2-699733602732.pdf
http://azanulahyan.blogspot.com/2014/04/sistem-demokrasi-ekonomi.html
http://zainulmuchlas.wordpress.com/pengantar-bisnis/ruang-lingkup-bisnis-3/